Merdeka itu buah dari biji kebenaran, bukan dari topeng kebenaran

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email

1 December 2020

By: Yamin Kogoya

Merdeka itu buah dari Kebenaran. Tapi, kebenaran yang akan selamatakan bangsa Papua adalah bukan theory, kepercayaan, definisi dan opini yang kita miliki tentang ‘konsep dan pengertian’  tentang kebenaran itu sendiri.

Kata kebenaran itu kata yang sangat berbahaya, kata ini bisa bunuh manusia, kata ini bisa melahirkan penderitaan dan juga kebenaran bisa melahirkan kebebasan tergantung dari hati dan lidah orang berbicara kata ‘kebenaran.’

Atas nama kata ini, banyak kemarahan, kebenciaan dan perang terjadi antara manusia di Bumi ini, karena setiap manusia, dalam pikiran kita, kita selalu pikir, hanya kita yang benar dan orang lain salah. Disini muncul banyak masalah.

Contoh: orang Jerman pikir mereka yang benar, maka mereka bomb Ingris, orang Ingris juga pikir mereka yang benar, maka mereka bomb Jerman dan Fransis, America pikir mereka yang benar, maka mereka bomb Iraq, saya pikir saya yang benar, maka saya salahkan teman, keluarga, suku dan agama orang lain.

Hampir semua konflik di Bumi ini muncul karena, manusia memiliki berbeda pendapat tentang kebenaran. Percaya pada konsep kebenaran dan hidup dalam kebenaran itu dua hal sangat berbeda. Yang pertama itu topeng, dan yang kedua itu buahnya, yang pertama itu kulitnya dan yang kedua itu isinya.

Kita selalu memiliki kecenderungan dimana kita ingin berafiliasi pikiran, emosi, pisikologis dan bahasa kita pada sesuatu yang ‘absolute dan infallible.’  Kata infallible ini artinya sesuatu yang absolute, kekal/eternal, sempurna, Alpa dan Omega. Maka manusia selalu pikir untuk berafiliasi dengan sesuatu yang absolute dan sempurna.

Setelah kita amankan posisi kita dengan konsep absolute, maka kita pikir kita yang benar dalam pikiran, perasahan, pengertian, perkataan dan tindakan kita karena menurut kita, kita sudah ada dalam posisi “absolute.”  Dan ide absolute ini kita selalu hubungan dengan pikiran atau kepercayaan kita terhadap “Tuhan, Allah, God, Alkitab” atau sesuatu yang kita pikir ‘ final’ ‘sempurna’ ‘Alpa dan Omega.’

 Secara pisikologis, kita manusia merasa kuat, benar, adil, baik dan memiliki moral dan etika hidup setiap kali kita memprogramkan pikiran kita untuk  berafiliasi dengan konsep-konsep, dokrin doktrin, pengajaran dan kepercayaan kita dengan sesuatu yang kita pikir ‘infallible.’ Dan kita pikir, kita benar karena kita punya posisi itu ada pada sesuatu yang “ mutlak atau infallible.”

Seorang yang mendeklarasikan diri berdiri di mimbar “mutlak” selalu menggunakan kata-kata yang bersifat merangkumi ‘semua, seluruh, total, segenap, semesta dan serata.’ Kata-kata ini mewakili sesuatu yang bersifatnya ‘absolute,’ bukan separuh atau setengah.

Setelah kita mengamankan pikiran, kepercayaan dan posisi kita dengan konsep ‘mutlak’, kata-kata, emosi, pisikologis, tindakan dan cara pandang kita di regulasikan atau di hidupkan dengan kata ‘kebenaran‘. Maka kata kebenaran dengan absolute itu memiliki hubungan yang dekat.

 Jadi kita pikir kita selalu benar, dan orang lain itu salah, pada hal kita tidak sadar bahwa kita tidak/belum memiliki informasi yang lengkap tentang hidup dan alam semesta. Dalam phenomenon ini, kata ‘kebenaran’ menjadi ‘topeng’ untuk menutupi segalah macam kejahatan, pembunuhan, pencurian, penipuan, kebenciaan yang ada di hati dan pikiran kita masing-masing secara individu atau grup.

Kita menggunakan kata-kata ‘mutlak, absolute, infallible’ seperti: Allah, God, Tuhan, Alkitab dan kata-kata seperti: ‘semua, seluruh, total, segenap, 100 percent’ dan lain sebagainya untuk membohongi HIDUP yang penuh dengan mystery.

Kita mengatasnamakan kata-kata ini untuk mengumumkan kepada dunia tentang rencana, ambisi, agenda, misi, program, project, keinginan dan ego kita. Tetapi kita tidak sadar bahwa kita hanya menggunakan kata-kata ini untuk kepentingan pripadi. Kita pikir bahwa kalau kita kibarkan bendera ‘kebenaran’ di publik dengan tulisan kata-kata mutlak ini, kita pikir bahwa Tuhan dan kita ada di satu kubu, dan Iblis akan di kalahkan dan manusia akan diselamatkan.

Kita bisa berhasil menjadi pelita/cahaya Tuhan kalau kita mewujudkan dan menghubungan apa yang ada di hati, pikiran dan kata-kata dia dengan tindakan hidup dia dimana saja kita berada, di publik maupun di private. Kalau hati kita bicara lain, pikiran kita bicara lain, dan juga mulut kita bicara lain dan tindak juga bergerak bertantangan dengan semua ini, maka kita sudah menjadi senjata bomb yang siap meledak dimana dan kapan saja. Kita telah menjadi suatu virus di tubuh kita sendiri, keluarga, teman, bangsa dan umat manusia di Bumi ini.

Pace Yesus betul-betul mengerti masalah ini,  maka pesan terakhir yang dia tinggalkan sama muridnya adalah: Love one another (mengasihi satu sama lain) dan mengampuni satu sama lain.

Karena Jesus mengerti bahwa sekalipun kita bisa melahirkan konsep kebenaran, ideology politik, theory social dan budaya model bagaimanapun, selama kita membenci sudara kita, kita tidak akan pernah membawah total revolusi dalam penderitaan umat manusia di Bumi ini. Karena masalah manusia itu muncul di hati dan pikiran manusia, bukan dari luar.

 Jadi tanpa revolusi hati, tanpa mengasihi sudara, tanpa mengampuni sudara, apakah kita bisa melahirkan nilai hidup untuk bangsa dan negara yang mampu melewati waktu, sejarah dan generasi yang panjang?

Hanya karena biji ‘kasih’ betul-betul di tanam di hati murid-murid Jesus, maka mereka bisa merubah dunia ini.

Selama lebih dari dua ribuh tahun, banyak kerejaan muncul, banyak bangsa dan negara muncul, banyak raja dan ratu muncul, banyak commander dan general muncul, banyak agama muncul, banyak ideology muncul, ribuan tentara muncul, banyak pemimpin hebat muncul, TETAPI nama dan ajaran Jesus masih tetap berdiri kuat di tengah sejarah peradaban manusia dari abad ke abad, dari generasi ke generasi.

Generasi Bangsa Papua sekarang ini mengalami banyak tantangan:

Banyak orang klaim diri pemiliki kebenaran mutlak sini, situ, sana, …

Banyak orang klaim diri merasa benar sini, situ, sana….

Banyak orang klaim diri pemimpin sini, situ, sana…

Banyak orang klaim diri pemiliki sejarah dan revolusi sini, situ, sana, …

Banyak orang klaim pemiliki nasib bangsa Papua sini, situ, sana, …

Banyak orang baku tuduh sini, situ, sana; …

Banyak orang baku maki sini, situ, sana,…

Banyak orang baku benci antara teman sini, situ, sana,…

Banyak orang baku jual dan bunuh sini,situ, sana…

Banyak orang bergossip dan bercerita tidak factual antara satu sama lain sini, situ, sana….

Banyak orang memiliki rencana jahat antara Papua dengan Papua sini, situ, sana…

Apakah roh-roh ini yang akan menjadi fondasi untuk membangun Bangsa Papua dan mendirikan Negara West Papua ka?

Bagaiman biji Bangsa Papua itu di tanam, bertumbuh dan berbuah di hati manusia Papua kalau hati dan pikiran manusia Papua itu penuh dengan duri-duri….sini, situ, sana…

Bagaimana biji Bangsa Papua itu bisa berbuah kalau kita masih terus berteriyak sini, situ, sana dengan menggunakan kata “ kebenaran” untuk menutupi kejahatan di hati, pikiran dan lidah kita?

Setiap manusia Papua dari setiap keluarga dan suku yang lahir di zaman ini, anda itu sebenarnya sudah dipilih untuk selamatkan bangsa Papua. Kalau anda tidak dipilih, maka anda sebenarnya lahir sebelum Indonesia masuk dan setelah Papua merdeka. Tapi anda lahir di zaman krisis dan masalah yang sangat besar di hadapi oleh semua suku bangsa Papua. Maka, tanggung Jawab mu sangat berat. Jangan berpikir seperti orang pemabuk yang bicara sini, situ, sana sembarangan. Marilah kita berpikir sebagai pahlawan dan duta besar bangsa Papua dengan nilai dan prinsip yang kuat dan tinggi dimana saja kita berada. Jaga hati, pikiran, kata-kata dan tindakan supaya biji Bangsa Papua yang ada di hatimu itu bisa tumbuh, besar dan berbuah untuk generasi kedepan.

You may also like to read..

Leave a comment

Translate »