Perbedaan “Perspektif” tentang Alam Papua adalah bagian dari akar masalah yang besar di Papua

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email

“…Aduhh…Alam Papua itu indah sekali…”  Dimana saja kita  bisa dengar kalimat ini, entah itu dari orang Papua atau non-Papua yang betul-betul tertarik dengan keunikan dan keindahan Alam Papua. Tetapi manusia kapitalis Barat dan Asia yang eksploisasi Alam Papua hanya bermimpi Alam Papua dengan nilai uang

Alam Papua, menurut perspektif orang asli Papua, itu sangat berbeda dengan orang non-Papua. Setiap keluarga di setiap suku orang asli Papua, yang kita katakan secara kolektif sebagai “ Bangsa Papua” memiliki hubungan yang sangat unik dan dalam dengan Alam Papua di masing-masing wilayah tanah adat. Contoh: orang gunung connect dengan gunung-gunung berbeda dengan orang pantai, orang pantai connect dengan lautan berbeda dengan orang gunung. Begitu pula dengan orang Papua yang ada di daerah lembah, rawa-rawa dan pulau-pulau.

Hubungan (connection) ini ada karena semua institusi social, budaya, hukum, ekonomi, pendidikan dan agama mereka telah di bangun langsung dengan symmetry Alam mereka. Sejarah, nilai hidup, kode-kode moral dan etika juga semua tercatat di system Alam. Di kosmologi mereka, Alam itu bukan hanya dihuni oleh manusia, tetapi Alamnya mereka itu dihuni oleh moyang mereka, binatang-binatang  dan juga banyak roh baik dan juga roh jahat, dan juga banyak ciptaan lain yang tidak bisa di lihat dengan mata manusia biasa. Hubungan manusia Papua dengan Alam mereka itu sangat complex.

Kosmologi (pandangan hidup) manusia asli Papua itu di bentuk (dengan/oleh/dari) Alam Papua. Jadi kalau Alam Papua itu di rusakan, berarti semua institusi orang asli Papua juga di hancurkan dan di musnahkan. Karena manusia asli Papua tidak bisa mengerti arti dan tujuan hidup ini tanpa mengerti arti system kehidupan Alam. Oleh karena perspektif (Alamcentric) ini, Moyang Bangsa Papua tidak pernah menyerang Alam Papua hanya untuk kepentingan manusia (Anthropocentric). Perspektif Alam atau (Alamcentric) ini yang sekarang manusia modern dan materialist ada cari dimana-mana di seluruh dunia. Mereka tidak mengerti bahwa manusia Papua mati dan berjuang setiap hari untuk melindungi dan mempertahankan “Perspektif” Alam ini.

Baru-baru Tuan Benny Wenda mengumumkan kepada dunia bahwa West Papua akan menjadi Negara Hijau pertama di dunia itu sebenarnya untuk mempertahankan Alam Papua ini, bukan copy paste ideology Alam dari dunia barat, timur atau utara.

Tetapi sedihnya manusia luar (kolonial) tidak paham tentang “Perspektif Alam” yang di miliki oleh Bangsa Papua. Manusia luar yang datang di Alam Papua dengan semua agenda modernisasi, pembangunan, kemajuan, peradaban dan segala macam bentuk ide perubahan tidak sadar bahwa Alam Papua itu suatau Peradaban Asli (natural) yang moyang orang asli Papua mempertahankan ribuan tahun. Peradaban Asli Alam Papua ini sudah ada sebelum peradaban-peradaban buatan manusia seperti Mesopotamia, Babylon, Mesir, Yunani, Roma, China, Ottoman, Ingris, dan America muncul di muka Bumi ini.

Manusia non-Papua (katakanlah manusia kolonial) memandang gunung-gunung di Papua itu penuh dengan emas, mereka melihat lautan dan sungai-sungai indah di Papua itu penuh dengan ikan dan gas. Tetapi bagi manusia asli Papua, tempat-tempat itulah sejarah moyang mereka tercatat dan disimpan dan semua institusi mereka dibangun langsung dengan system Alam. System Alam itu adalah institusi mereka. Institusi Alam itu sama dengan gedung putih di Amerika.

Manusia kolonial memandang Alam Papua sebagai sebuah hutan liar dimana mereka bisa masuk sembarangan untuk cari makan, curi dan bunuh. Mereka sama sekali tidak sadar bahwa Alamnya Papua itu sama seperti kota-kota buatan manusia seperti yang ada di Jakarta, Amsterdam, New York atau London.

Kalau kita manusia Alam Papua pergi ke Jakarta atau New York city baru kasih hancur bangunan tinggi, curi barang sembarangan di kota-kota buatan manusia ini, apakah mereka akan marah atau tidak? Pasti mereka akan panggil kita teroris dan dunia akan berteriyak 24 jam untuk kejar kita.

Dengan logika yang sama, pertanyaan yang sangat aneh, tapi yang sangat tragic adalah: Mengapa manusia dari kota-kota buatan manusia ini datang di Alam Papua dan mencuri, membunuh dan menghancurkan semua system Alam Papua? Mengapa kota dan rumah mereka (kolonial) itu di lindungi dengan system security yang paling ketat, kemudian di kota Alam Papua itu di lakukan seperti hutan kosong dimana mereka bikin semau-nya mereka? Mo bunuh ka, mo perkosa ka, mo curi ka, semua di ijinkan? Mengapa para kriminal dunia Barat dan Asia yang setiap detik menghancurkan Alam Papua dan mencuri semua keindahannya ini di biarkan begitu saja? Mengapa orang asli Papua tidak kategorikan mereka sebagai para gerombolan atau teroris yang masuk di Alam Papua tujuan untuk mencuri dan membunuh? Mengapa dunia tidak bisa berteriyak 24 jam untuk mengejar manusia-manusia pencuri kolonial ini? Mengapa manusia asli Alam Papua yang berusaha untuk melindungi rumah mereka seperti TPNPB itu selalu di kategorikan mereka sebagai “ gerombolan dan teroris”? Sebenarnya yang teroris disini siapa? TPNPB atau manusia elite yang mastermind exploisasi Alam Papua yang ada di Jakarta, Amsterdam, Washington, Canberra dan London?

Pertanyaan model begini sebenarnya perlu dijadikan kurikulum terwajib untuk di ajar sama anak-anak mereka melalui system pendidikan di Indonesia, Belanda, America, Australia, Ingris dan negara lain yang cari makan di Alam Papua. Tujuanya supaya mereka jangan terus mengulangi “perspective yang salah tentang Alam Papua” yang di miliki oleh orang tua mereka. Hal ini sangat penting sekali karena semua pembunuhan yang terjadi terhadap manusia asli Pribumi di Bumi ini terjadi karena Salah Perspektif tentang Alamnya mereka.

Di zaman ini, kehidupan manusia dan semua mahluk lain di Bumi ini tergantung pada perspektif yang salah ini. Kalua PBB dan semua institusi yang didirikan oleh manusia kolonial modern betul-betul serious dengan keselamatan semua mahluk di Bumi ini, mereka harus dengar dari manusia asli Papua karena mereka yang betul-betul mengerti dan memiliki perspektif yang benar tentang Alam Papua. Tetapi sayangnya rakyat yang tidak salah di korbangkan dan di terjebatkan dalam semua propaganda “pembangunan”.

Jadi disini kita sudah mengerti bahwa: Manusia Asli Papua dan Tentara Pembebasan National Papua Barat (TPNPB) yang di kategorikan oleh Jakarta sebagai teroris itu salah. Jakarta salah diagnosis akar masalah Papua  karena informasi yang regulasikan “perspektif” elit di Jakarta tentang Papua dari dulu sudah salah, maka pengertian elit di Jakarta tentang orang asli Papua, OPM dan TPNPB juga salah. Mereka itu solusi untuk menyelesaikan masalah yang di lahirkan oleh America, Belanda, Ingris dan Indonesia di Bumi Cenderawasih.

You may also like to read..

2 thoughts on “Perbedaan “Perspektif” tentang Alam Papua adalah bagian dari akar masalah yang besar di Papua”

Leave a comment

Translate »